Dalam rangka membuka Musyawarah Besar Bamus Betawi di Balai Kota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Jumat (1/9) kemarin. Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan bebicara soal kebesaran hati pemimpin di masa lalu.
Dilansir dari m.detik.com (02/08/2018) Anies mengambil contoh Presiden Sukarno. Anies membeberkan soal kebesaran hati Sukarno untuk tak melanjutkan masa jabatannya sebagai Presiden RI di tahun 1966 karena tak mau RI pecah
"Di Timur Tengah, banyak masalah timbul karena apa, karena praktik demokrasi. Di Indonesia, sebaliknya. Indonesia punya kematangan demokrasi, kalau tahu waktunya cukup, maka cukup sampai di sini. Di masa krisis lihat Bung Karno, tahun 1966 kalau Bung Karno bilang pada pengikutnya 'saya akan teruskan jadi presiden'. Apa yang terjadi? Pecah republik ini," kata Anies
Menanggapi pernyataan Anies tersebut PDIP memberikan reaksi keras alias ngamuk dan menilai Anies berbicara asal-asalan hanya untuk mengarahkan opini publik supaya Jokowi tak lanjut jabatan presiden dua periode.
"Itu asbun (asal bunyi)! Dia maksa, hanya pengin supaya Jokowi mundur, kan begitu tujuannya, sehingga dipaksa-paksa dengan konteks yang berbeda," kata Sekretaris Badan Pendidikan dan Pelatihan DPP PDIP Eva Kusuma Sundari saat dimintai tanggapan, Minggu (2/9/2018).
Menurut Eva, Anies melepaskan konteks sejarah Bung Karno saat itu, yakni saat Bung Karno terlanjur mengangkat dirinya menjadi presiden seumur hidup. Namun kini, konstitusi sudah membatasi masa jabatan presiden maksimal dua periode saja.
Lagipula, Bung Karno bukan turun karena kemauannya sendiri melainkan diturunkan atau disuruh turun. "Menurutku Mas Anies kurang baca kayaknya, kurang baca sejarah. Maunya tenendsius tapi salah data," kata Eva.
Dengan fakta sejarah yang diungkapkan Sekretaris Badan Pendidikan dan Pelatihan DPP PDIP Eva Kusuma Sundari tentang Sukarno turun dari jabatan Presiden RI secara tidak langsung Eva meng Skak Mat pernyataan Anies tentang kebesaran hati bung karno turun dari jabatan Presiden RI.
Baca Sumber
Dilansir dari m.detik.com (02/08/2018) Anies mengambil contoh Presiden Sukarno. Anies membeberkan soal kebesaran hati Sukarno untuk tak melanjutkan masa jabatannya sebagai Presiden RI di tahun 1966 karena tak mau RI pecah
"Di Timur Tengah, banyak masalah timbul karena apa, karena praktik demokrasi. Di Indonesia, sebaliknya. Indonesia punya kematangan demokrasi, kalau tahu waktunya cukup, maka cukup sampai di sini. Di masa krisis lihat Bung Karno, tahun 1966 kalau Bung Karno bilang pada pengikutnya 'saya akan teruskan jadi presiden'. Apa yang terjadi? Pecah republik ini," kata Anies
Menanggapi pernyataan Anies tersebut PDIP memberikan reaksi keras alias ngamuk dan menilai Anies berbicara asal-asalan hanya untuk mengarahkan opini publik supaya Jokowi tak lanjut jabatan presiden dua periode.
"Itu asbun (asal bunyi)! Dia maksa, hanya pengin supaya Jokowi mundur, kan begitu tujuannya, sehingga dipaksa-paksa dengan konteks yang berbeda," kata Sekretaris Badan Pendidikan dan Pelatihan DPP PDIP Eva Kusuma Sundari saat dimintai tanggapan, Minggu (2/9/2018).
Menurut Eva, Anies melepaskan konteks sejarah Bung Karno saat itu, yakni saat Bung Karno terlanjur mengangkat dirinya menjadi presiden seumur hidup. Namun kini, konstitusi sudah membatasi masa jabatan presiden maksimal dua periode saja.
Lagipula, Bung Karno bukan turun karena kemauannya sendiri melainkan diturunkan atau disuruh turun. "Menurutku Mas Anies kurang baca kayaknya, kurang baca sejarah. Maunya tenendsius tapi salah data," kata Eva.
Dengan fakta sejarah yang diungkapkan Sekretaris Badan Pendidikan dan Pelatihan DPP PDIP Eva Kusuma Sundari tentang Sukarno turun dari jabatan Presiden RI secara tidak langsung Eva meng Skak Mat pernyataan Anies tentang kebesaran hati bung karno turun dari jabatan Presiden RI.
Baca Sumber



