Namanya juga berorganisasi, berkoalisi, akan selalu ada perbedaan pandangan dari tiap kepala. Tidak sepaham, bukan berarti harus berlawanan. Belum sepakat, bukan berarti takkan bisa merekat. Semua masih bisa terus dibicarakn baik-baik. Akan ada solusi dari setiap masalah yang ada.
Apalagi, soal pilih memilih cawapres beberapa waktu lalu. Di kubu oposisi yang diisi oleh Prabowo sebagai capres, sosok Sandiaga Uno-lah yang justru naik mendampingi Prabowo di pilpres 2019.
Bukan Salim Segaf Al Jufri, bukan Ustaz Abdul Somad juga bukan Putra Mahkota Cikeas, AHY. Keputusan itu memang sulit bagi semua partai koalisi. Jelas semua ingin memajukan orang-orang partainya masiing-masing. Tapi, tentu harus ada saling pengertian dan mengalah untuk bisa merajut tujuan bersama.
AHY, yang tidak menjadi cawapres Prabowo juga sama. Mengaku memang saat ini belum takdirnya mengantar jadi cawapres, dia berusaha legowo. Menerima dengan lapang hati.
Tak sangka, Prabowo juga lebih berbesar hati melihat kebesaran hati AHY. Sambil menepuk pundak sulung SBY tersebut, Prabowo bilang, “Saudara AHY ini adalah modal bangsa yang kita siapkan untuk masa depan yang akan datang.”
Lanjutnya, “Jadi kalau diperthatikan Ustaz Salim, Profesor Amien Rais, saya semua kita menyiapkan generasi penerus kita. Nanti generasinya adalah yang muda-muda ini yang akan menegakkan amanat penderitaan rakyat dan keadilan,” tandasnya. Bikin merinding! Kumparan.com (10/8/2018).
Apa yang Prabowo sampaikan, seharusnya juga menyulut semangat pemuda-pemuda bangsa. Bahwa kita adalah generasi penerus yang akan melanjutkan perjuangan bangsa ini nantinya.
Belum saatnya sekarang, bukan berarti buruk. Bukan berarti tak mampu dan tak layak menjadi di posisi tertentu. Tapi, ada waktu yang lebih tepat menunggu kematangan seluruh kemampuan dan pemikiran kita. Yaitu pada masanya. Di waktu depan. Sama dengan AHY, tidak saat ini, tapi nanti. Ada masanya. Bersabarlah dan terus berbesar hati.

