Sosok Ma'ruf Amin selama ini dikenal sebagai sosok ulama yang kharismatik. Jarang sekali dirinya berkomentar jika tidak ditanya. Namun, setelah resmi menjadi cawapres Jokowi di Pilpres 2019, Ma'ruf Amin pun mulai mengikuti arus politik. Ma'ruf Amin pun mulai melancarkan "serangan" politik ke kubu lawan.
Sebagai cawapres Jokowi, sindiran Ma'ruf Amin memang belum terlalu vulgar namun hal itu sudah membuktikan keberanian Ma'ruf Amin. Apa yang disampaikan tersebut seolah-olah ingin menegaskan jika dirinya bisa juga berpolitik meski statusnya sebagai ulama. Tentu menarik untuk disimak karena sindiran Ma'ruf Amin langsung membuat kubu lawan kebakaran jenggot.
Seperti dikutip Detik.com (10/8/2018), Ma'ruf Amin bicara soal kelompok yang selalu menyebut sebagai pihak yang menghargai ulama. Namun, kata Ma'ruf, kelompok tersebut tak mendengarkan hasil Ijtimak Ulama. Menurutnya, belah sono (Prabowo) ngomong menghargai ulama, menghargai ulama tapi hasil ijtimak ulamanya tidak didengarkan, malah wakilnya bukan ulama.
Ma'ruf tak menyebut dengan lugas pihak yang dimaksud. Sindiran itu disampaikan Ma'ruf saat bicara tentang sosok Joko Widodo. Menurut dia, Jokowi sangat menghargai para ulama. Menurutnya, penunjukan dirinya tersebut sebagai wujud penghargaan ulama.
Kontan saja kubu lawan langsung panas mendengar sindiran dan buru-buru membantah. Kadiv Advokasi dan Bantuan Hukum DPP Demokrat Ferdinand Hutahaean menilai rekomendasi Ijtimak Ulama mengenai cawapres Prabowo Subianto tak harus dipatuhi. Hal itu dia sampaikan untuk menanggapi pernyataan Ma'ruf Amin.
Menurutnya, Ijtimak Ulama itu adalah usul sehingga yang namanya usul bukan menjadi mutlak harus dilakukan. Ferdinand menilai pernyataan itu tak pantas disampaikan oleh ulama seperti Ma'ruf. Dia menilai pernyataan itu seolah memanas-manasi.
PKS juga langsung menepis sindiran Ma'ruf Amin tersebut. PKS menilai Prabowo sangat menghargai ulama, karena itu semua keputusannya didiskusikan dengan para ulama. Ketua DPP PKS Mardani Ali Sera mengatakan, soal Prabowo yang tak memilih cawapres hasil rekomendasi Ijtimak Ulama, Mardani menyatakan itu adalah bagian dari strategi. (skhnews)



